Wednesday, June 01, 2005

Jangan Ditanya

Jangan mereka ditanya kapan bertemu
Jawabnya ada pada Al Wahhab,yang pemberiannya tiada terbatas

Jangan mereka ditanya lewat apa bertemu
Jawabnya ada pada Al-Khobir, yang pengenalannya tiada berjarak

Jangan mereka ditanya bagaimana bisa mengangguk
Jawabnya ada pada AlJami' yang menyatukan segala yang terpisah

Sumber: undangan pernikahan temennya temen

Friday, October 08, 2004

kesedihan

tahukah anda puncak dari segala kesedihan??

ketika kita mulai kehilangan diri kita

kehilangan tujuan hidup, kehilangan semangat, kehilangan inspirasi
tidak tau akan kemana, dan untuk apa hidup kita

lalu kemudian bertanya...
Apakah yang sudah saya lakukan sampai usia segini?

setidaknya itulah yang saya rasakan saat ini

semoga Alloh mengampuni saya.....

Berkhidmatlah

Suatu ketika setelah pulang kerja sore hari saya iseng nonton tv kamar teman saya satu kost. Kebetulan saat itu teman-teman saya sedang menyaksikan acara di salah satu tv swasta yang diisi oleh K.H Abdullah Gymnastriar (aa Gym). Tema yang diangkat cukup menarik perhatian bagi saya tentunya yaitu tentang Persiapan sebelum menikah. Begitulah kira-kira jika saya tidak salah tangkap. Banyak hal yang dikupas disana, termasuk bagaimana adab pergaulan antara pria dan wanita, apa yang harus dipersiapkan sebelum menikah, dan nasehat-nasehat lainnya seputar pernikahan.

Satu hal yang menarik perhatian saya dan membuat saya kemudian merenungi kembali segala sesuatu yang sudah saya jalani selama ini adalah sebuah nasehat yang dilontarkan oleh aa Gym yaitu “manfaatkanlah waktu sebelum menikah untuk berkhidmat kepada orang tua”. Mungkin bagi beberapa orang nasehat itu terkesan sudah biasa dan memang begitulah seharusnya. Toh Rosululloh pun ketika menjawab pertanyaan seorang sahabat tentang siapakah yang patut ditaati setelah Alloh dan Rosulnya, Rosululloh manjawab ibumu, ibumu dan ibumu sampai tiga kali setelah itu baru ayahmu. Dari sini dapat diambil pelajaran betapa tingginya kedudukan orang tua kita, betapa pentingnya kita menjadikan orang tua diposisi yang seharusnya kita muliakan.

Kembali ke permasalahan berkhidmat kepada orang tua, mungkin bukan suatu halangan yang besar bagi kita jika kita tinggal bersama dengan orang tua, walaupun tentunya hal tersebut tidak mudah untuk dilakukan. Tapi setidaknya begitulah anggapan saya sebagai seorang anak yang tidak tinggal bersama kedua orang tua. Sudah beberapa tahun belakangan ini saya menyandang predikat anak kost, tepatnya ketika saya mulai kuliah dan predikat itu masih saya sandang sampai sekarang, ketika saya mencoba belajar untuk bekerja.

Lantas muncul pertanyaan besar dalam benak saya, bagaimana saya bisa berkhidmat kepada orang tua saya sementara saya sendiri berada jauh secara fisik dengan mereka. Bagaimana saya bisa melayani keduanya dengan sebaik baik pelayanan? Saya tidak bisa mengantarkan kemanapun mereka pergi, saya tidak bisa membantu pekerjaan sehari-hari yang biasanya dilakukan oleh mereka, bahkan ketika kondisi kesehatan mereka sedang tidak fit, saya tidak bisa sekedar memijat kaki keduanya seperti yang dilakukan oleh teman-teman saya yang tinggal bersama orang tua.

Saya jadi teringat teman saya satu kost yang merupakan ’anak tunggal’ dikeluarganya. Teman saya ini selalu menyempatkan untuk pulang kerumah setidaknya dua pekan sekali. Dan tahukan apa yang dia kerjakan dirumah? Dia melakukan pekerjaan rumah yang tersisa dalam rentang waktu dua minggu sebelumnya. Bagi saya, ditengah segala keterbatasan, baik waktu dan finansial tentunya dibutuhkan suatu tekad yang besar untuk melakukan itu.

Saya berkhayal seandainya saya bisa seperti itu. Saya berkhayal seandainya saya berada dirumah, saya paling tidak bisa melakukan hal-hal kecil yang dapat membuat kedua orang tua saya tersenyum. Saat ini saya hanya bisa sekali-kali menjenguk mereka saat saya menyempatkan diri untuk mudik, dan itupun lebih sering bukan saya yang kemudian berkhidmat kepada mereka tetapi lebih cenderung ada keinginan untuk dilayani dengan asumsi saya lelah setelah melakukan perjalanan 7- 8 jam. ‘Saya ingin segera sampai kerumah dan beristirahat’ begitulah kira-kira yang ada di benak saya ketika diperjalanan.

Satu hal yang paling membahagiakan bagi saya ketika saat-saat bertemu dengan kedua orang tua saya adalah mengetahui bahwa keduanya dalam keadaan baik-baik saja. Ditengah beban hidup yang tidak ringan, mereka sealalu saja menyediakan telaga kasih sayang buat kami anak-anaknya, betapapun kami sering melupakan mereka bahkan mempersembahkan kekecewaan kepada mereka. Menyaksikan kedua orang tua semakin bertamba usianya, semakin memutih rambutnya, semakin renta tubuhnya, dan disaat itu saya belum bisa melakukan apapun untuk mereka, membuat saya kembali berfikir bahwa sudah saatnya lah saya curahkan segala bentuk perhatian dan pelayanan untuk kedua orang tua saya. Ketika masih tersedia kesempatan, ketika masih ada tangan ibu dan ayah kita yang bisa kita cium….

Mungkin memang hanya itulah yang bisa saya lakukan saat ini. Disaat saya jauh dari keduanya, saya berusaha mengingatnya. Bukan tidak pernah terpikir untuk kembali memulai hidup dikampung halaman, bersama dengan kedua orang tua, tetapi keaadan lah yang membuat saya belum dapat melakukan semua itu. Bagaimana pun life is full of choice dan selalu ada konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil.

Semoga Alloh mengampuni saya atas segala sikap dan perlakuan saya kepada orang tua saya, dan semoga kedua orang tua saya ridho atas saya…..

Amien…

serius

hari ini aku belajar satu hal

bahwa segala sesuatu dalam kehidupan
harus dijalani dengan serius... dan bersungguh sungguh

seperti kata pepatah arab

-man jadda wa jadda -
barang siapa melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh maka ia akan mendapatkan apa yang dikehendakinya


'thanks to you' my friend

Friday, October 01, 2004

Mengangislah..

Air mata yang telah jatuh
Membasahi bumi ... takkan sanggup
Menghapus penyesalan

Penyesalan yang kini ada ... jadi tak berarti
Karna waktu yang bengis ... terus pergi

Menangislah… bila harus menangis
Karena kita semua… manusia
Manusia bisa terluka… manusia pasti menangis
Dan manusiapun bisa mengambil Hikmah …

Dibalik segala duka
Tersimpan Hikmah
Yang bisa kita petik pelajaran
Dibalik segala suka
Tersimpan Hikmah
Yang mungkin bisa jadi cobaan ...

dari : Air Mata (Dewa)

Thursday, September 23, 2004

Karena Cinta

Cinta lah yang tetap membuatku tegar menjalani hidup, seberat apapun itu. Cinta kepada Allah yang menganugerahkan cinta dan kehidupan ini, yang memperkenankan aku hidup bersama orang-orang yang mencintaiku.

Wednesday, August 18, 2004

The dice

The Dice (Sang Dadu)

Bagaimana bisa kita memahami nasib? Saya tak bisa. Tetapi keponakan saya yang berumur lima tahun punya petunjuknya.
Saat itu saya sedang bermain berdua dengannya: Ular-Tangga. Setelah beberapa lama bermain dan bosan mulai merambati benak, saya meraih surat kabar dan mulai membaca-baca. Nanda, keponakan saya itu, kemudian berkata, "Ayo jalan! Gililan Om. Kalo nggak jalan juga, Om bakal nggak naik-naik, di situ telus, dan mainnya nggak selesai-selesai."

Saya tersadar.
Ular-Tangga, permainan semasa kita kanak-kanak, adalah contoh yang bagus tentang permainan nasib manusia. Ada petak-petak yang harus dilewati. Ada Tangga yang akan membawa kita naik ke petak yang lebih tinggi. Ada Ular yang akan membuat kita turun ke petak di bawahnya.

Kita hidup. Dan sedang bermain dengan banyak papan Ular-Tangga. Ada papan yang bernama kuliah. Ada papan yang bernama karir. Ada papan bernama cinta. Ada papan bernama keluarga. Suka atau tidak dengan permainan yang sedang dijalaninya, setiap orang harus melangkah atau ia terus saja ada di petak itu. Suka tak suka, setiap orang harus mengocok dan melempar dadunya. Dan sebatas itulah ikhtiar manusia: melempar dadu (dan memprediksi hasilnya dengan teori peluang). Hasil akhirnya, berapa jumlahan yang keluar, adalah mutlak kuasa Tuhan. Apakah Ular yang akan kita temui, ataukah Tangga, Allah lah yang mengatur.
Dan disitulah Nasib. Kuasa kita hanyalah sebatas melempar dadu.

Malangnya, ada juga manusia yang enggan melempar dadu dan menyangka bahwa itulah nasibnya. Bahwa di situlah nasibnya, di petak itu. Mereka yang malang itu, terus saja ada di sana. Menerima keadaan sebagai Nasib, tanpa pernah melempar dadu.

Mereka yang takut melempar dadu, takkan pernah beranjak ke mana-mana. Mereka yang enggan melempar dadu, takkan pernah menyelesaikan permainannya.

Setiap kali menemui Ular, lemparkan dadumu kembali. Optimislah bahwa di antara sekian lemparan, kau akan menemukan Tangga.

Thursday, July 15, 2004

Andai Kata

Andai Kata Lebih Panjang Lagi

Seperti yang telah biasa dilakukannya ketika salah satu sahabatnya meninggal dunia

Rasulullah SAW mengantar jenazahnya sampai ke kuburan. Dan pada saat pulangnya disempatkannya singgah untuk menghibur dan menenangkan keluarga almarhum supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musibah itu.

Kemudian Rasulullah SAW berkata,"tidakkah almarhum mengucapkan wasiat sebelum wafatnya?" Istrinya menjawab, saya mendengar dia mengatakan sesuatu diantara dengkur nafasnya yang tersengal-sengal menjelang ajal" "Apa yang di katakannya?" "saya tidak tahu, ya Rasulullah SAW, apakah ucapannya itu sekedar rintihan sebelum mati, ataukah pekikan pedih karena dasyatnya sakaratul maut. Cuma, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong." "Bagaimana bunyinya?" desak Rasulullah SAW. Istri yang setia itu menjawab, "suami saya mengatakan "Andaikata lebih panjang lagi....andaikata yang masih baru.... andaikata semuanya...." hanya itulah yang tertangkap sehingga kami bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu igauan dalam keadaan tidak sadar, ataukah pesan-pesan yang tidak selesai?" Rasulullah SAW tersenyum."sungguh yang diucapkan suamimu itu tidak keliru,"ujarnya.

Kisahnya begini. Pada suatu hari ia sedang bergegas akan ke masjid untuk melaksanakan shalat Jum'at. Ditengah jalan ia berjumpa dengan orang buta yang bertujuan sama. Si buta itu tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntun. Maka suamimu yang membimbingnya hingga tiba di masjid. Tatkala hendak menghembuskan nafas penghabisan, ia menyaksikan pahala amal sholehnya itu, lalu iapun berkata "andaikan lebih panjang lagi". Maksudnya, andaikata jalan ke masjid itu lebih panjang lagi, pasti pahalanya lebih besar pula.

Ucapan lainnya ya Rasulullah SAW?" tanya sang istri mulai tertarik. Nabi menjawab, "adapun ucapannya yang kedua dikatakannya tatkala, ia melihat hasil perbuatannya yang lain. Sebab pada hari berikutnya, waktu ia pergi ke masjid pagi-pagi, sedangkan cuaca dingin sekali, di tepi jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, hampir mati kedinginan. Kebetulan suamimu membawa sebuah mantel baru, selain yang dipakainya. Maka ia mencopot mantelnya yang lama, diberikannya kepada lelaki tersebut. Dan mantelnya yang baru lalu dikenakannya. Menjelang saat-saat terakhirnya, suamimu melihat balasan amal kebajikannya itu sehingga ia pun menyesal dan berkata, "Coba andaikan yang masih yang kuberikan kepadanya dan bukan mantelku yang lama, pasti pahalaku jauh lebih besar lagi". Itulah yang dikatakan suamimu selengkapnya.

Kemudian, ucapannya yang ketiga, apa maksudnya, ya Rasulullah SAW?" tanya sang istri makin ingin tahu. Dengan sabar Nabi menjelaskan, "ingatkah kamu pada suatu ketika suamimu datang dalam keadaan sangat lapar dan meminta disediakan makanan? Engkau menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur dengan daging. Namun, tatkala hendak dimakannya, tiba- tiba seorang musafir mengetuk pintu dan meminta makanan. Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua potong, yang sebelah diberikan kepada musafir itu. Dengan demikian, pada waktu suamimu akan menghembuskan nafasnya, ia menyaksikan betapa besarnya pahala dari amalannya itu. Karenanya, ia pun menyesal dan berkata ' kalau aku tahu begini hasilnya, musafir itu tidak hanya kuberi separoh. Sebab andaikata semuanya kuberikan kepadanya, sudah pasti ganjaranku akan berlipat ganda. Memang begitulah keadilan Tuhan. Pada hakekatnya, apabila kita berbuat baik, sebetulnya kita juga yang beruntung, bukan orang lain.

Lantaran segala tindak-tanduk kita tidak lepas dari penilaian Allah. Sama halnya jika kita berbuat buruk. Akibatnya juga akan menimpa kita sendiri. Karena itu Allah mengingatkan: "kalau kamu berbuat baik, sebetulnya kamu berbuat baik untuk dirimu. Dan jika kamu berbuat buruk, berarti kamu telah berbuat buruk atas dirimu pula." (surat Al Isra': 7)

Do'a

Ya Allah...........seandainya telah Engkau catatkan
dia akan menjadi teman menapaki hidup
Satukanlah hatinya dengan hatiku
Titipkanlah kebahagiaan diantara kami
Agar kemesraan itu abadi
Dan ya Allah ....... ya Tuhanku yang Maha Mengasihi
Seiringkanlah kami melayari hidup ini
ke tepian yang sejahtera dan abadi
Tetapi ya Allah ......
Seandainya telah Engkau takdirkan .......
...... Dia bukan milikku
Bawalah ia jauh dari pandanganku
Luputkanlah ia dari ingatanku
Ambillah kebahagiaan ketika dia ada disisiku
Dan peliharalah aku dari kekecewaan
Serta ya Allah ya Tuhanku Yang Maha Mengerti.......
Berikanlah aku kekuatan
Melontar bayangannya jauh ke dada langit
Hilang bersama senja nan merah
Agarku bisa berbahagia walaupun tanpa bersama
dengannya
Dan ya Allah Yang tercinta..........
Gantikanlah yang telah hilang
Tumbuhkanlah kembali yang telah patah
Walaupun tidak sama dengan dirinya........
Ya Allah ya Tuhanku......
Pasrahkanlah aku dengan takdirMu
Sesungguhnya apa yang telah Engkau takdirkan
Adalah yang terbaik buatku
Karena Engkau Maha Mengetahui
Segala yang terbaik buat hambaMu ini
ya Allah.....
Cukuplah Engkau saja yang menjadi pemeliharaku
di dunia dan di akhirat
Dengarlah rintihan dari hambaMu yang daif ini
Jangan Engkau biarkan aku sendirian
Di dunia ini maupun di akhirat
Menjuruskan aku ke arah kemaksiatan dan kemungkaran
Maka kurniakanlah aku seorang pasangan yang beriman
Supaya aku dan dia dapat membina kesejahteraan hidup
Ke jalan yang Engkau ridhoi
Dan kurniakanlah padaku keturunan yang sholeh
Amin.............. Ya Rabbal ' Alamin

Sadarkah kita

Sadarkah Kita.


Sadarkah kita bahwa;
Kita dilahirkan dengan dua mata di depan, karena seharusnya
kita melihat yang ada di depan, kita lahir dengan dua telinga,
satu kiri dan satu di kanan sehingga kita dapat mendengar dari
kedua sisi. Menangkap pujian maupun kritikan, dan melihat mana
yang benar.

Kita dilahirkan dengan otak tersembunyi di kepala, sehingga
bagaimanapun miskinnya kita, kita tetap kaya. Tak seorang pun
yang dapat mencuri isi otak kita, yang lebih berharga dari
segala permata yang ada.

Kita dilahirkan dengan dua mata, dua telinga, namun cukup
dengan satu mulut. Karena mulut tadi adalah senjata yang
tajam, yang dapat melukai, memfitnah, bahkan membunuh.
Lebih baik sedikit bicara, tapi banyak mendengar dan melihat.

Kita dilahirkan dengan satu hati, yang mengingatkan kita
untuk menghargai dan memberikan cinta kasih dari dalam lubuk
hati. Belajar untuk mencintai dan menikmati dicintai, tetapi
jangan mengharapkan orang lain mencintai anda dengan cara dan
sebanyak yang sudah anda berikan. Berikanlah cinta tanpa
mengharapkan balasan, maka anda akan menemukan bahwa hidup
ini akan menjadi lebih indah.


" Sahabatmu adalah kebutuhan jiwamu yang terpenuhi. Dia lah
ladang hatimu, yang dengan kasih kautaburi dan kau pungut
buahnya penuh rasa terimakasih. Kau menghampirinya dikala
hati gersang kelaparan, dan mencarinya dikala jiwa
membutuhkan kedamaian. Janganlah ada tujuan lain dari
persahabatan kecuali saling memperkaya jiwa". (Kahlil Gibran)